Tuesday, March 27, 2012

Tuhan, Izinkan Aku Tersenyum!



By: Fajriyanti Muslimat (Venty)

Hidup? Apa yang dapat kalian definisikan ketika mendegar kata “Hidup”? Hidup adalah antara suka dan duka, galau dan tersenyum, tertawa dan menangis. Hidup ini seperti tarian seekor kupu-kupu, yang terkadang berada di atas dan terkadang berada di bawah. Hidup ini sebenarnya indah. Tapi bergantung pada kita sendiri yang menilai bagaimana hidup kita. Dan bergantung juga bagaimana kita mensyukuri hidup dan cinta kita kepada yang maha kuasa. Berbicara tentang cinta. Ada beberpa orang yang tentunya tidak diragukan lagi ketulusan cintanya dan tidak akan melepaskan cinta mereka untuk kita. Yaitu keluarga, terutama orang tua.

Mama, mama yang telah mengandungku selama sembilan bulan. Mama yang sudah memperjuangkan hidup dan matinya hingga aku dapat hadir di dunia ini. Mama juga yang telah merawatku dengan kelembutan dan kasih sayang. Ayah? Papa? Bapak? Abi? ...
 
Ada yang ingin ku ceritakan di sini. Khusus untuk Ayah/Papa/Bapak/Abi yang berada di sana. Entah harus ku panggil dia dengan sebutan apa. Dia pergi di saat aku berusia dua bulan. Melihat wajahnya saja aku belum pernah. Tuhan, jika aku diberi kesempatan. Aku ingin bertemu dia untuk yang pertama kalinya. Aku hanya ingin menyampaikan “Ayah/Papa/Bapak/Abi, aku rindu kasih sayangmu.” Saat ini aku merasakan sesuatu yang sangat berat. Ketika aku tahu dia sudah pergi dan tak akan kembali. Haruskah aku kehilangan dia disaat anak-anak seusiaku masih sibuk bermain? Masih suka dengan canda tawa? Tuhan, izinkan aku tersenyum walau tanpa kasih sayang darinya. Haruskah aku tahan apa yang bukan milikku ketika sang pemilik memintanya?
              
        Jakarta, 26 Juni 2010. Wisuda angkatan lima SDIT Miftahul Ulum. Wisuda untuk yang pertama kalinya aku ikuti. Di sinilah aku benar-benar menginginkan dia berada di sampingku. Hari ini adalah hari yang bahagia untuk kita semua yang berada di ruangan ini. Kebahagiaan akan terasa lebih lengkap jika kita dikelilingini oleh orang-orang yang kita cintai. Yaitu keluarga, terutama orang tua. Mama, hanya mama yang datang bersamaku hari ini. Rasanya tidak lengkap. Ku lihat di sekelilingku, kehangatan sebuah keluarga yang lengkap. Tuhan, izinkan aku tersenyum diacara Prosesi Wisuda hari ini, tanpa keluaga yang lengkap. Tersenyum, tersenyum untuk mengikuti semua susunan acara. Mungkin jika hari ini ada sosok seorang ayah, aku akan lebih dari tersenyum. Aku akan tertawa untuk dunia. Setelah serangkaian acara telah dilalui.  

Selesailah acara “Prosesi Wisuda SDIT Miftahul Ulum.” Dengan disertai langkah, aku berjalan hampiri sosok yang luar biasa dalam hidupku, Mama. Ku cium tangan mama, ku peluk mama sambil berkata “Terimakasih, Mama.” Kembali ku lihat di sekelilingku. Sebuah keluarga kecil yang lengkap. Di dalamnya ada kasih sayang, ada cinta, ada kehangatan. Ketika seorang anak mencium tangan Ayah dan Ibunya. Ketika sosok seorang ayah mengusap kepala anaknya. “Ayah bangga padamu, nak!” Dan berfoto bersama. Sangat indah dalam bayanganku. Ya Tuhan, aku rindu. Rindu dengan semua itu. Aku ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga bersama sosok seorang ayah. Ahhh.. sebaiknya air mata ini ku simpan saja.

Aku sadar di sampingku ada seseorang yang sangat luar biasa. Dia berjuang seorang diri agar aku bisa merasakan indahnya hidup. Keberhasilan yang aku capai hari ini tidak terlepas dari cinta, kasih sayang, dukungan serta bimbingan darinya. Ya, dia biasa ku panggil dengan sebutan “Mama.” Aku sadar aku masih punya mamah yang selalu ada untukku. Berkatnya, hari ini ku capai nilai NEM yang memuaskan. 27,05. Mama, yang aku berikan hari ini tidak akan cukup untuk membalas semua yang telah mamah berikan kepadaku. Terimakasih ma. Aku sayang mamah sampai akhir hayatku. Nilai yang maksimal, serta sebuah piala ini akan ke persembahkan untuk Mama dan Ayah/Papa/Bapak/Abi yang berada di sana.

Ayah/Papa/Bapak/Abi, memang aku tidak akan pernah melihatmu lagi. Sekarang aku sudah beranjak dewasa. Empat belas tahun sudah kau meninggalkanku. Empat belas tahun aku tanpa bimbinganmu. Kini aku harus menyadari kecintaanku kepada Allah SWT. Harus ku tempatkan di atas segalanya. Karena apa yang ada padaku, bukanlah milikku. Karunia Allah SWT. Sajalah yang membuatku dapat merasakan hidup tanpa seorang ayah semenjak umurku dua bulan. Ayah/Papa/Bapak/Abi, kita tidak berpisah. Kita hanya hidup di tempat yang berbeda. Rasa sayangku, rasa cintaku, rasa rinduku, semua akan ku sampaikan dalam do’a.  


Aku akan berusaha menjadi amalmu lewat do’a-do’aku untukmu. Kau selalu ada di sini, di dalam hatiku. Bahkan terasa sangat dekat setiap kali aku membaca “Robbigfirli waliwalidaia warhamhuma kama robbayani soghiro.” Selamat jalan Ayah/Papa/Bapak/Abi. Tetaplah tersenyum dalam pelukanNya.

              
Tekadku sekarang, aku akan tetap tertawa walau sebenarnya ingin menangis. Tetap tersenyum walau sebenarnya kecewa. Tetap kuat walau sebenarnya gak sanggup lagi. Tetap semangat jika tertekan oleh masalah. Yang terpenting tetap sabar dan memandang segalanya baik-baik saja. Karena aku masih punya seorang bidadari cantik yang selalu berada di sampingku. Malaikatku, Mama. Darinya ku kenal dunia dengan segala warnanya. 

Terimakasih Mama.

Taken from "Untuk MU Sahabat"


No comments:

Post a Comment